Melawan Lupa Perjuangan KH Ahmad Badruzzaman Asal Sukabumi

Sangat menarik membaca sebuah buku biography seorang tokoh masyarakat yang kini masih terasa getar perjuangannya. Pembaca akan diajak pada perjuangan yang sepintas biasa saja, tapi makin ditelaah akan memancarkan semangat akan nilai yang diperjuangkan dalam setiap jengkal kehidupan.

Siapa pun yang pernah mengenal KH Ahmad Badruzzaman tentang perjuangan mendirikan lembaga pendidikan bernama Sinar Islam di Sukabumi akan sulit melawan lupa. Terutama bagi anak biologis sekaligus ideologis Kyai Badru, Veri Muhlis Arifuzzaman.

Kang Veri, biasa disapa, menuliskan setiap jengkal perjuangan Kyai Badru, merasa sangat emosional yang pada gilirannya berpengaruh pada gaya tutur sekaligus materi tulisan.

“Menulis sesuatu tentang bapak sudah barang tentu akan terasa berat. Bukan saja katena terlalu banyak kenangan yang hadir dan tak mungkin dituangkan dalam kalimat, tetapi betapa bayangan bapak hadir dj hadapan saya…” (h, 23).

Dia nyaris terhempas dalam ruang gelap hingga tidak mampu melihat secara utuh sosok yang dituliskannya. Ini menjadi sangat manusiawi untuk ukuran menulis sebuah perjalanan hidup seseorang yang punya hubungan emosional kuat.

Kendala ini sangat terantisipasi oleh Cecep Romli sebagai penulis kedua dengan latar seorang editor sekaligus dosen. Cecep menyempurnakan dialektika emosional Kang Veri dengan narasi apik setiap jengkal perjalan hidup Kyai Badru.

Fragmen pertama buku tentang wafatnya Kyai Badru bisa terbaca secara sempurna dengan sentuhan nilai keagamaan. Bukan hanya sebuah nestapa kehilangan sang panutan, tapi refleksi nilai perjuangan Kyai Badru (h,39-52).

Bahasan Kyai Badru yang dianggapnya seorang ibu sekaligus itu dimulai penulis dengan Bab 1 Minggu 27/Rajab/1428-9/September 2007. Sang kyai menghembuskan nafas terakhir setelah berusaha keras antri salam lada kedua mempelai dari Gubernur Jawa Barat Denny Setiawan di Bandung.

Kang Veri gunakan emosinya untuk melawan lupa akan senyuman, sapaan dn candaan khasnya ketika mendidik di tengah kesibukan sebagai ulama dengan ribuan jamaahnya dan politisi Golkar Jawa Barat dengan setumpuk tugas mengurus umat.

Pembahasan menarik lain adalah kiprah politik Kyai Badru di Golkar yang menjabat anggota DPRD Jawa Barat tiga periode. Dengan tanpa memanfaatkan kedudukan dan jabatannya, Kyai Badru istiqomah mengurus umat.

Kyai Badru tetap berharap umat menjadi pemain di kampung sendiri, ikut menentukan arah politik bangsa. Terbuktikan dengan aktif di ICMI, MUI, mengajar di Kodim, tetap mengobati orang dengan segelas air dan diminta untuk memberi nama anak kampung yang baru dilahirkan.

Dari paduan ulama-politisi tersebut akhirnya terpancarkan pesan-pesan penting, yang sekali lagi terbatas karena aspek emosional Kang Veri itu, menjadi panduan para murid dan keluarga besar Kyai Badru.

Semisal Bagian 2: Mutiara Ajaran (h, 93-105) yang secara tegas mengajak pembaca untuk mengingat pentingnya, “Jamaah yang Istiqomah” dengan Kyai Badru yang tidak mau meninggalkan mengajar meski tengah di luar kota (h,95), itu yang pertama.

Kedua “Melebihi Bobot Ibadah Biasa” dengan meyakini kegiatan belajar mengajar atau majelis taklim merupakan ibadah yang bobotnya melebihi ibadah sunnah.

Ketiga “Komitmen Kuat untuk Mengajar”, dengan mengutip kitab al-Nubala karya Al-Dzahabi bahwa masyarakat damaskus sangat membutuhkan guru lalu khalifah mengundang 5 ulama besar kota Madinah untuk berangkat ke Damaskus. Komitmen ulama generasi sahabat nabi ini sangat terbaca dalam kebiasaan Kyai Badru memaksakan pulang larut malam untuk mengajar di pagi harinya.

Pembahasan selanjutnya penambah kesan kuat profile ulama yang politisi dan politisi yang ulama. Kyai Badru di mata mantunya Nafsiyah dipandang sebagai orang yang visioner. Yang sudah memberikan nama anaknya dengan nama yang tidak local taste, seperti nama suaminya Veri Muhlis Arifuzzaman; nama yang sudah melampaui zamannya. Kyai Badru juga mengirim anaknya ke berbagai pesantren terkemuka Daar El Qolam (h, 287).

Bahkan Kyai Badru sendiri adalah alumni Asromo di Majalengka hingga menguasai sorogan (sistem belajar kitab dengan satu guru-satu murid) dikuatkan kepindahannya dari SMA ke pesantren berbasis salafiyah di Cigunung lengkap dengan pengalaman organisasinya.

Terdapat pengakuan kolektif bahwa sosok Kyai Badru turun ke anak bungsunya, Kang Veri, yang ketika mengisi khutbah kerap disahut sama keluarga besar; “Ieu mah jiga Aa”- ini seperti Aa (sebutan Kyai Badru dari adek-adeknya). Dari cara menggerakkan anggota tubuh sampai mengenakan sarung berhadapan dengan sesama; diskusi hangat berbobot dengan canda renyah mencerahkan.

Kang Veri memang Kyai Badru dengan kini menjadi pimpinan Yayasan Sinar Islam dengan kegiatan pendidikan dari mulai RA, MI, MD, SMP dan SMK dengan persiapan menyelenggarakan perguruan tinggi. Ini sebagai amanah dari Kyai Badru yang berkata; “Bikinlah sekolah bahkan terus sampai perguruan tinggi di sini. Agar anak kampung bisa sekolah di kampung, kuliah di kampung, jadi sarjana di kampung dan berkarya di kampung” (h, 34).

Buku ini sangat terbaca jelas sebagai dedikasi untuk mengenang semua kebaikan dan jasa baik Kyai Badru pada murid dan keluarga besar. Perjalanan hidup Khai Badru terus dihidupkan oleh giat Yayasan Sinar Islam tempat di mana Kyai Badru merealisasikan tekad menjadikan orang kampung jadi pemain di kampungnya sendiri. .

Semoga bisa meneladani, amiiin.

Judul Buku, KH Ahmad Badruzzaman, Seakan Tetap Ada, Sekilas Kehidupan & Ajarannya

Penulis, H Veri Muhlis Arifuzzaman dan R Cecep Romli

Penerbit CV Media Kalam Tangerang Selatan Banten

Cetakan, Pertama Maret 2024

Volume, 303

ISBN, 978-623-93027-2-6